Ophthalmoscope adalah alat diagnostik untuk memeriksa bagian dalam mata — retina, pembuluh darah retina, dan saraf optik dengan bantuan sumber cahaya dan sistem lensa. Pemeriksaannya disebut oftalmoskopi dan lazim menjadi bagian dari pemeriksaan fisik mata di rumah sakit, puskesmas, maupun klinik pratama.
Alat ini tidak menegakkan diagnosis sendiri. Ophthalmoscope memberi gambaran struktur fundus yang kemudian dinilai bersama gejala, riwayat penyakit, dan pemeriksaan penunjang lain oleh dokter yang berwenang.
Apa Itu Ophthalmoscope?

Ophthalmoscope adalah instrumen optik genggam yang memproyeksikan cahaya ke dalam pupil, lalu memperbesar bayangan fundus agar bisa diamati pemeriksa. Satu unit terdiri dari empat komponen utama:
- Sumber cahaya — halogen atau LED, dengan tingkat kecerahan yang bisa diatur.
- Roda aperture — mengatur bentuk berkas cahaya: lingkaran kecil, lingkaran besar, slit, hingga target fiksasi.
- Filter — termasuk filter red-free untuk menonjolkan pembuluh darah dan filter biru kobalt untuk evaluasi fluoresens.
- Dial lensa (Reksos) — kompensasi refraksi pemeriksa dan pasien, umumnya berkisar −20 sampai +20 dioptri.
Di Indonesia, istilah ophthalmoscope sering dipakai bergantian dengan funduskopi, meski secara teknis funduskopi merujuk pada pemeriksaan fundus secara umum. Keduanya berbeda dari retinoscope, yang dipakai untuk mengukur kelainan refraksi, bukan mengamati struktur retina.
Fungsi Ophthalmoscope dalam Pemeriksaan Mata
Fungsi utama ophthalmoscope adalah membuka akses visual ke struktur yang tidak terlihat dari permukaan bola mata. Tanpa alat ini, kelainan di retina hanya bisa diduga dari gejala.
Mengamati Retina dan Saraf Optik
Retina adalah jaringan peka cahaya yang mengubah stimulus visual menjadi sinyal saraf, sementara saraf optik menyalurkannya ke otak. Ophthalmoscope memungkinkan pemeriksa menilai empat hal mendasar: warna dan kejernihan retina, kaliber serta jalur pembuluh darah, batas optic disc, dan ada tidaknya perdarahan atau eksudat.
Temuan di area ini tidak selalu berhenti pada penyakit mata. Perubahan pembuluh darah retina kerap menjadi penanda hipertensi, diabetes melitus, atau peningkatan tekanan intrakranial, sehingga oftalmoskopi rutin berguna pada pasien penyakit sistemik.
Membantu Mengidentifikasi Temuan Klinis
Beberapa kondisi yang paling sering terdeteksi lewat pemeriksaan ini antara lain retinopati diabetik, retinopati hipertensi, papiledema, ablasi retina, dan perdarahan vitreus. Pada bayi baru lahir, ophthalmoscope dipakai untuk menilai red reflex — refleks merah di pupil yang hilang atau abnormal dapat menjadi tanda katarak kongenital atau retinoblastoma.
Perlu ditegaskan: oftalmoskopi bersifat skrining dan konfirmasi awal. Ketajaman hasilnya bergantung pada jenis alat, kejernihan media mata, lebar pupil, dan keterampilan pemeriksa. Pemeriksaan lanjutan seperti funduskopi dengan pupil dilatasi atau pencitraan fundus tetap diperlukan bila temuan meragukan.
Jenis-Jenis Ophthalmoscope
Ada tiga jenis yang paling banyak dipakai di fasilitas kesehatan Indonesia. Perbedaannya terletak pada pembesaran, luas bidang pandang, dan kebutuhan dilatasi pupil.
| Aspek | Direct | Indirect (BIO) | Panoptic |
|---|---|---|---|
| Pembesaran | ±15x | 2–5x (tergantung lensa kondensor) | ±5x |
| Bidang pandang | Sempit (±6–10°) | Luas | Luas (±25–27°) |
| Citra | Monokuler, tegak | Binokuler, stereoskopis, terbalik | Monokuler, tegak |
| Dilatasi pupil | Umumnya tidak wajib | Wajib | Disarankan |
| Penggunaan utama | Ruang periksa, bedside, skrining awal | Ruang operasi, retina, skrining ROP | IGD, skrining cepat |
Direct Ophthalmoscope
Direct ophthalmoscope memberi bayangan tegak dengan pembesaran tinggi, cocok untuk mengamati detail optic disc dan makula. Kelemahannya: bidang pandang sempit, citra monokuler, dan sulit dipakai pada pupil yang miosis atau media mata keruh (katarak).
Alat ini paling praktis untuk pemeriksaan di ruang rawat inap dan puskesmas karena portabel dan tidak menuntut dilatasi pupil.
Indirect Ophthalmoscope
Indirect ophthalmoscope alias binocular indirect ophthalmoscope (BIO) dipasang di kepala pemeriksa dan memakai lensa kondensor (20D, 28D, atau 30D) di tangan. Hasilnya berupa bayangan terbalik, tetapi dengan bidang pandang luas dan efek stereoskopis — keunggulan besar saat menilai ablasi retina atau retinopati prematuritas.
Konsekuensinya, BIO wajib disertai midriatikum dan pemeriksa harus terlatih menginterpretasikan citra terbalik.
Panoptic dan Ophthalmoscope Digital
Panoptic ophthalmoscope menjembatani keduanya: bidang pandang jauh lebih luas dari direct konvensional tanpa menuntut dilatasi penuh. Sementara itu, ophthalmoscope digital dan kamera fundus non-midriatik kini dipakai untuk dokumentasi dan telemedicine, meski harganya masih jauh di atas unit optik konvensional.
Bagaimana Cara Kerja Ophthalmoscope?
Prinsipnya sederhana: cahaya menerangi fundus, bayangan yang dipantulkan dibelokkan oleh sistem lensa ke mata pemeriksa. Alur praktiknya sebagai berikut.
- Persiapan. Jelaskan prosedur, redupkan ruangan, dan posisikan pasien duduk sejajar mata pemeriksa.
- Setel awal. Putar dial ke 0 dioptri, pilih aperture lingkaran besar, dan nyalakan cahaya pada intensitas sedang.
- Cari red reflex. Dari jarak ±30 cm, arahkan cahaya ke pupil hingga muncul refleks merah. Ini penanda jalur optik sudah benar.
- Dekatkan alat. Majukan ophthalmoscope perlahan ke arah mata pasien, hampir menyentuh bulu mata, sambil menjaga refleks tetap terlihat.
- Fokuskan. Putar dial sampai pembuluh retina tampak tajam, lalu telusuri optic disc dan ikuti jalur pembuluh ke empat kuadran.
- Ganti aperture bila perlu. Gunakan slit untuk menilai elevasi lesi dan filter red-free untuk membedakan perdarahan dari pigmen.
- Catat temuan. Dokumentasikan batas disk, rasio cup-to-disc, kaliber pembuluh, serta lokasi kelainan.
Kualitas visualisasi dipengaruhi pencahayaan ruangan, lebar pupil, kejernihan kornea dan lensa, serta refraksi pasien. Pada pasien katarak padat atau pupil sangat kecil, hasil oftalmoskopi sering kali tidak diagnostik dan perlu dialihkan ke pemeriksaan lain.
Spesifikasi yang Wajib Dicek Saat Pengadaan Ophthalmoscope
Bagi rumah sakit, klinik, dan puskesmas, memilih ophthalmoscope bukan sekadar soal merek. Ada lima hal yang menentukan apakah alat layak dibeli lewat jalur pengadaan pemerintah.
- Legalitas. Pastikan produk memiliki izin edar Alat Kesehatan dan PKRT (AKL) dari Kemenkes. Alat tanpa izin edar tidak boleh diadakan dengan anggaran negara.
- Standar mutu. Cari sertifikasi ISO 13485 untuk sistem manajemen mutu produsen serta kesesuaian IEC 60601-1 dan IEC 60601-1-2 untuk keamanan listrik dan kompatibilitas elektromagnetik.
- TKDN. Nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri memengaruhi penilaian preferensi harga. Produk dengan TKDN tinggi berpeluang menang lebih besar dalam e-purchasing maupun tender.
- Spesifikasi teknis netral. Rumuskan kebutuhan berdasarkan fungsi — rentang dioptri, jenis sumber cahaya, daya tahan baterai — bukan nama merek, agar tidak terjadi pengarahan.
- Layanan purnajual. Minta kejelasan garansi, ketersediaan suku cadang, dan dukungan kalibrasi. Ophthalmoscope adalah instrumen optik; tanpa servis, akurasi cepat menurun.
Untuk kebutuhan pengadaan rutin, ophthalmoscope termasuk dalam kelompok alat diagnostik yang tersedia melalui e-purchasing Katalog Elektronik LKPP. Produk yang sudah tayang di katalog dapat dibeli langsung oleh PPK tanpa lelang, dengan harga dan spesifikasi yang sudah terverifikasi.
Sebagai vendor alat kesehatan pengadaan pemerintah, Sariling Solusi Alkesindo menayangkan unit ophthalmoscope beserta otoskop dan instrumen sejenis dalam paket set diagnostik. Anda bisa melihat daftar lengkapnya di katalog Inaproc Sariling Solusi Alkesindo, lalu mencocokkannya dengan spesifikasi di e-Katalog alat kesehatan kami.
Butuh diskusi teknis sebelum menyusun KAK? Tim kami bisa membantu lewat jalur konsultasi pengadaan alat kesehatan.
FAQ Seputar Ophthalmoscope
Apa perbedaan ophthalmoscope dan retinoscope?
Ophthalmoscope dipakai untuk mengamati struktur dalam mata seperti retina dan saraf optik. Retinoscope mengukur kelainan refraksi dengan mengamati pantulan cahaya dari retina.
Apakah ophthalmoscope bisa memeriksa retina?
Ya. Ophthalmoscope membantu mengamati retina, pembuluh darah retina, dan kepala saraf optik. Untuk visualisasi lebih luas, digunakan indirect ophthalmoscope dengan pupil yang sudah didilatasi.
Apakah ophthalmoscope dapat mendeteksi semua penyakit mata?
Tidak. Alat ini hanya menjangkau struktur fundus tertentu. Kelainan segmen anterior seperti konjungtivitis atau ulkus kornea memerlukan slit lamp, dan diagnosis tetap butuh pemeriksaan penunjang lain.
Apakah pemeriksaan ophthalmoscope menimbulkan rasa sakit?
Tidak. Pemeriksaan hanya memerlukan kontak dekat dengan mata. Ketidaknyamanan biasanya muncul dari silau cahaya atau refleks berkedip, bukan dari alatnya.



