Pengadaan Pulse Oximeter Digital adalah proses belanja alat pemantau saturasi oksigen (SpO2) dan frekuensi nadi (PR Bpm) berbasis optik yang tercatat di etalase e-Katalog LKPP. Tiga hal menentukan hasilnya: kelas perangkat yang dipilih, HPS yang realistis, dan kelengkapan dokumen penyedia.
Bagian tersulit biasanya bukan memilih merek, melainkan menjelaskan ke pengelola anggaran mengapa unit Rp200.000 dan unit Rp800.000 sama-sama disebut “pulse oximeter” padahal peruntukannya berbeda. Perbandingan kelas di bawah ini menjawabnya.
Tiga Kelas Perangkat Pulse Oximeter di Etalase e-Katalog

Kelas perangkat ditentukan oleh bentuk, jenis layar, dan kelengkapan alarm — bukan sekadar nama merek. Cocokkan kelas dengan bangsal pemakai agar HPS tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah.
| Kelas Perangkat | Bentuk & Layar | Fitur Kunci | Peruntukan Umum | Estimasi Kisaran Harga |
|---|---|---|---|---|
| Fingertip portabel | Genggam, layar LED atau OLED dua arah | SpO2 dan PR Bpm, umumnya tanpa alarm tersetel | Skrining, klinik pratama, puskesmas pembantu | Rp150.000 – Rp350.000 |
| Handheld atau benchtop klinis | Genggam besar atau unit meja, layar OLED/TFT | Alarm batas bawah, memori, PI, bentuk gelombang | IGD, ruang rawat inap, poliklinik | Rp400.000 – Rp900.000 |
| Benchtop dengan alarm lanjutan | Unit meja, layar TFT warna | Alarm multi-level, audio, opsi pencetakan tren | Ruang perawatan khusus, HCU, ruang pulih | Rp1.000.000 – Rp2.500.000 |
Catatan penting: angka di atas adalah estimasi indikatif pasar, bukan HPS. Nilai HPS wajib dihitung dari harga sah yang tercatat di e-Katalog LKPP atau Inaproc pada saat pengadaan, karena harga etalase berubah mengikuti kontrak dan periode berlaku. Untuk kebutuhan ICU, kamar operasi, atau ruang dengan pemantauan berkelanjutan, unit yang dipakai umumnya monitor pasien multi-parameter dengan modul SpO2, bukan oximeter berdiri sendiri.
Menyusun HPS yang Realistis dari Etalase Resmi
- Kumpulkan minimal tiga penyedia pada kelas yang sama, bukan membandingkan kelas fingertip dengan benchtop.
- Catat harga satuan, nilai TKDN, dan masa berlaku kontrak harga untuk setiap penawaran.
- Tambahkan komponen biaya probe pengganti, karena komponen ini yang paling cepat aus dan sering lupa dianggarkan.
- Masukkan biaya uji fungsi awal saat serah terima dan pelatihan operator bila diperlukan.
- Dokumentasikan sumber setiap angka HPS agar bisa dipertanggungjawabkan saat audit.
Parameter Teknis yang Membedakan Kelas Standar dan Klinis
- Rentang ukur dan akurasi. Kebutuhan minimal adalah rentang 70–100% SpO2 dengan akurasi ±2% (ARMS). Klaim ini harus didukung dokumen pengujian pabrikan.
- Alarm. Unit klinis memiliki alarm batas bawah SpO2 dan nadi yang dapat disetel. Unit fingertip umumnya tidak, sehingga kurang sesuai untuk ruang rawat dengan pengawasan berkala.
- Indeks perfusi (PI). Menunjukkan kekuatan sinyal arteri. Nilai di bawah 0,4% menandakan pembacaan tidak layak dijadikan dasar diagnosis.
- Memori dan ekspor data. Semakin tinggi kelas, semakin panjang riwayat tren yang dapat disimpan dan dipindahkan ke rekam medis.
- Sensor dan sumber cahaya. Semua kelas memakai LED merah 660 nm dan inframerah 940 nm; yang membedakan kualitas adalah stabilitas fotodiode terhadap gerakan dan cahaya ambient.
- Ketahanan bodi. Minimal IP22 dan tahan disinfeksi alkohol 70% untuk pemakaian bergantian antar pasien.
Uji Fungsi, Baterai, dan Perawatan Harian
Pulse oximeter tidak direkalibrasi ulang setiap tahun seperti alat ukur tekanan darah. Unit dikalibrasi di pabrik saat produksi, lalu diverifikasi melalui uji fungsi berkala memakai simulator SpO2.
- Jadwalkan uji fungsi pada rentang 70%, 90%, dan 100% SpO2 dan simpan hasilnya sebagai lampiran pemeliharaan aset.
- Perhatikan konsumsi daya. Unit berbaterai AAA memudahkan penggantian cepat, sementara baterai isi ulang lebih hemat untuk pemakaian intensif.
- Bersihkan lensa LED dan fotodiode dengan kain lembut beralkohol 70%; hindari cairan berlebih dan air mengalir.
- Periksa setiap bulan kondisi pegas jepit, retakan bodi, dan kabel atau konektor yang mulai longgar.
- Simpan unit pada suhu ruang, jauh dari sumber panas dan kelembapan tinggi.
Dokumen Penyedia dan Garansi yang Wajib Dilampirkan
- Izin edar Kemenkes RI dengan nomor registrasi per tipe unit yang ditawarkan.
- IDAK sebagai bukti penyedia berhak menyalurkan alat kesehatan.
- Sertifikat AKD dan nilai TKDN sebagai dasar preferensi harga pengadaan dalam negeri.
- Sertifikat kalibrasi pabrik per unit dan bukti dukungan uji fungsi setelah serah terima.
- Garansi pabrikan minimal 12 bulan dengan SLA penggantian unit yang tertulis di kontrak.
- Ketersediaan probe pengganti dan manual penggunaan berbahasa Indonesia.
Verifikasi Pengadaan Pulse Oximeter Digital Melalui e-Katalog LKPP
- Finalkan spesifikasi dan kelas perangkat yang dibutuhkan setiap bangsal.
- Bandingkan harga satuan, TKDN, dan masa berlaku kontrak pada etalase pulse oximeter digital e-Katalog LKPP.
- Periksa rekam jejak dan legalitas penyedia pada catatan penyedia di katalog Inaproc sebelum menyusun surat pesanan.
- Ajukan permintaan penawaran dan lakukan negosiasi harga melalui menu e-Purchasing.
- Terbitkan Surat Pesanan elektronik sesuai kontrak harga satuan yang berlaku.
- Lakukan uji fungsi saat serah terima, cocokkan barang dengan spesifikasi Kerangka Acuan Kerja, lalu unggah BAST dan catat aset.
FAQ Seputar Pengadaan Pulse Oximeter Digital
Apa saja parameter utama yang wajib diperhatikan dalam pengadaan pulse oximeter digital?
Parameter utamanya adalah rentang ukur 70–100% SpO2 dengan akurasi ±2% ARMS, jenis layar, fitur alarm batas normal, kapasitas memori, kelengkapan izin edar Kemenkes, dan jaminan garansi distributor.
Berapa kisaran harga oximeter digital di portal e-Katalog LKPP?
Kelas fingertip portabel umumnya berada di kisaran ratusan ribu rupiah, sedangkan unit klinis dengan alarm dan memori berada di atasnya. Angka tersebut bersifat indikatif; harga sah dan HPS harus diambil dari etalase e-Katalog pada periode pengadaan yang berlaku.
Apakah unit oximeter kelas lanjutan wajib dipakai di ICU?
Tidak selalu. Pemantauan berkelanjutan di ICU dan kamar operasi umumnya memakai monitor pasien multi-parameter dengan modul SpO2, bukan oximeter berdiri sendiri.
Mengapa izin edar Kementerian Kesehatan wajib dilampirkan oleh penyedia alat kesehatan?
Izin edar membuktikan perangkat telah lulus uji, aman digunakan pada pasien, dan memenuhi standar acuan medis nasional. Nomor registrasinya perlu dicocokkan per tipe unit, bukan hanya per merek.



